Ricky Ronaldo (Mahasiswa Prodi Studi Agama-Agama)

Indonesia merupakan bangsa yang memiliki keberagaman yang terdiri dari berbagai suku, agama dan bahasa. Keberagaman ini terjalin dalam satu ikatan bangsa indonesia sebagai satu kesatuan bangsa yang utuh dan berdaulat, Bhinneka Tunggal Ika berbeda-beda tapi tetap satu. Keberagaman bangsa Indonesia tidak hanya terlihat dari beragamnya jenis suku, namun terlihat juga dari beragamnya agama yang dianut penduduk. Suasana kehidupan beragama yang harmonis di lingkungan masyarakat heterogen dengan berbagai latar belakang agama bisa terbangun karena toleransi dan saling menghargai perbedaan.

Pemeluk agama di Indonesia dari jumlah yang paling banyak berturut-turut adalah agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Kong Hu Cu, dan agama lainnya. Keragaman di Indonesia adalah berkah sekaligus bencana bagi bangsa Indonesia. Keberagaman itu menjadi sebuah keberkahan karena dengan adanya beragam perbedaan kita bisa saling mengenal satu sama lain, baik itu mengenal bahasa,suku, agama, serta pemahaman-pemahaman yang berbeda, hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Alquran surat Al-Hujarat (QS 49:ayat 13) yang berbunyi: “Wahai manusia! Sungguh kami telah menciptakan kamu sekalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa, bersuku-suku berbeda agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang-orang yang paling bertaqwa, sungguh Allah Maha Mengetahui dan Maha Teliti”.

Dan keberagaman itu menjadi bencana disaat tidak ada keseimbangan dialektis antara umat manusia, banyaknya claim-claim kebenaran sepihak dan prasangka-prasangka terhadap sesama. Dalam konteks keberagaman agama, pemahaman terhadap ayat-ayat suci secara dangkal,partikulatif, elektik, dan harfiah serta mudah membuat sebuah generalisasi akan sangat berpotensi menimbulkan bencana atau kegaduhan. Sebagai missal, setiap memasuki bulan Desember yang di dalam bulan ini terdapat perayaan hari besar(Natal) dari salah satu agama yang ada di Indonesia yaitu agama kristen, hawa intoleransi pun mulai terasa. Hawa intoleransi semakin terasa ketika minggu terakhir bulan Desember menjelang perayaan Natal. Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa perayaan Natal biasanya di laksanakan setiap tanggal 25 Desember. Sejak memasuki minggu terakhir pada bulan desember ini mulai muncul kepermukaan perdebatan-perdebatan klasik di kalangan umat Islam tentang ihwal boleh atau tidak mengucapkan selamat Natal kepada saudara yang tidak seiman.

Para ulama berbeda pendapat didalam penentuan hukum fiqih Dalam hal mengucapkan selamat Hari Natal ini, antara yang pro terhadap pengucapan Natal dan yang kontra sama-sama memili dalil. Meskipun pengucapan selamat Hari Natal ini sebagiannya masuk didalam wilayah aqidah, namun ia memiliki hukum fiqih yang bersandar kepada pemahaman yang mendalam, penelaahan yang rinci terhadap nash-nash syar’i. Ulama yang melarang atau mengharamkan umumnya mengatakan adanya hadis yang mengharamkan menyerupai orang kafir (non muslim). Islam melarang umatnya meniru-niru berbagai perilaku yang menjadi bagian ritual keagamaan tertentu di luar Islam atau menggunakan simbol-simbol yang menjadi cirri khas mereka seperti mengenakan salib, atau pakaian khas mereka. Rasulullah SAW bersabda yang artinya: Siapa yang meniru-niru suatu kaum maka ia adalah bagian dari mereka (HR. Abu Dawud dari Ibnu Umar).

Ibnu Taimiyah, Ibnu Qoyyim dan para pengikutnya seperti Syeikh Ibn Zaaz, Syeikh Ibnu Utsaimin serta yang lain seperti Syeikh Ibrahim bin Muhammad al Huqoil berpendapat bahwa mengucapkan selamat Hari Natal hukumnya adalah haram karena perayaan ini adalah bagian dari syiar-syiar agama mereka. Allah tidak meredhai adanya kekufuran terhadap hamba-hamba Nya. Sesungguhnya didalam pengucapan selamat kepada mereka adalah tasyabbuh (menyerupai) dengan mereka dan ini di haramkan. Diantara bentuk-bentuk tasyabbuh antara lain: ikut serta didalam hari raya tersebut dan mentransfer perayaan-perayaan mereka ke negeri-negeri Islam. Mereka juga wajib menjauhi berbagai perayaan orang-orang kafir, menjauhi dari sikap menyerupai perbuatan-perbuatan mereka, menjauhi segala sarana yang digunakan untuk menghadiri perayaan tersbut, tidak menolong seorang muslim didalam menyerupai perayaan hari raya mereka, tidak mengucapkan selamat atas perayaan hari raya mereka serta, menjauhi penggunaan berbagai nama dan istilah khusus didalam ibadah mereka.   

Sedangkan sebagian  ulama muashirin yang ahli di bidang fiqih, tafsir dan hadist membolehkan ucapan selamat Natal. Mengucapkan selamat atas perayaan hari besar agama lain adalah boleh selagi mereka bersikap baik dan tidak memerangi kita, seperti yang tercantum dalam QS al Mumtahanah ayat 8 yang terjemahannya berbunyi sebagai berikut :

‘’Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah orang-orang yang berlaku adil.

Jumhur ulama kontemporer yang memperbolehkan ucapan selamat Natal antara lain: Syeikh Yusuf al-Qardhawi yang berpendapat bahwa perubahan kondisi globallah yang menjadikannya berbeda dengan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah didalam mengharamkan pengucapan selamat hari-hari agama orang-orang Nasrani atau yang lainnya. Qardhawi juga menjelaskan tidak ada hal yang mencegah untuk mengucapkan selamat pada perayaan non-muslim akan tetapi jangan ikut jangan ikut merayakan. Sama halnya dengan Syeikh Wahbah Al Zuhaili beliau mengatakan “tidak ada halangan dalam bersopan santun (mujamalah) dengan orang Nasrani menurut pendapat sebagian ahli fiqih berkenaan hari raya mereka asalkan tidak bermaksud sebagai pengakuan atas kebenaran ideology mereka”.

Quraish Shihab, ulama terkmuka di Indonesia juga mengatakan bahwa ada ayat Al-Qur’an yang mengabadikan ucapan Selamat Natal yang pernah di ucapkan Nabi Isa. Beliau mengatakan bahwa mengucapkan dan membaca “Selamat Natal” tidak dilarang, dan mengucapkan “selamat” kepada siapa saja tidaklah keliru, selagi tujuannya untuk pergaulan, persaudaraan, dan persahabatan adalah kemaslahatan tetapi ucapan “Selamat Natal” yang beliau maksud adalah ucapan Selamat Natal yang diucapkan Nabi Isa dan di abadikan di dalam Al-Qur’an : “Salam sejahtera untukku pada hari kelahiranku, wafatku, dan kebangkitanku kelak” (QS. Maryam:33).

Perdebatan-perdebatan klasik seperti pengucapan Selamat Natal ini sebenarnya sudah selayaknya kita tinggalkan karena bisa memecah belah persatuan bangsa serta mencederai keberagaman yang ada di Indonesia, Idealnya, di zaman modern yang mengalami perkembangan ilmu pengetahuan yang cukup pesat ini, seharusnya umat beragama di Indonesia sudah meninggalkan perdebatan-perdebatan yang tidak subtansial seperti pengucapan selamat natal kepada non muslim ini. Diskursus yang di bangun antar umat beragama di indonesia seharusnya sudah  membicarakan pembahasan-pembahasan yang mengarah kepada bagaimana mengolah perbedaan di tengah keragaman sehingga bisa saling bekerja sama untuk indonesia yang lebih baik dan hidup damai serta harmonis.

Maka dari itu setidaknya ada beberapa hal yang harus diprhatikan dalam membangun harmoni dalam perbedaan. Yaitu: pertama, kedewasaan umat dalam beragama. Kedewasaan dalam beragama sangat penting dalam menghadapi berbagai isu keagamaan, dengan kedewasaan beragama, umat tidak  mudah terpancing dan terprovokasi dengan berbagai perbedaan pendapat para ulama. Kedewasaan beragama tercermin dalam menyikapi berbagai isu dengan penuh bijaksana dan rasa saling menghormati yang tinggi. Kedua, meningkatkan rasa toleransi antar umat beragama secara benar, saling menghormati, dan menghargai pemeluk agama lain adalah salah satu dari perwujudan rasa toleransi. Toleransi yang benar tidak perlu sampai seseorang mencampur adukan antara ritual agamanya dengan agama lain atau mengikuti ritual yang bukan menjadi ritual agamanya. Yang ketiga, mengembangkan dialog yang tulus sesama maupun antar umat beragama. Dialog seperti ini sangat perlu dilakukan mengingat: akan adanya kesamaan maupun perbedaan yang tidak dapat disingkirkan dan diingkari, sesuai harkat dan martabat manusia; adanya kesamaan nilai-nilai serta permasalahan dan kebutuhan yang universal, yang berkaitan dengan kemanusiaan, seperti kebenaran, keadilan, persaudaraan dan cinta kasih; adanya fakta kehidupan bersama, dalam kemajemukan serta hubungan ketergantungan satu sama lain; mutlak perlunya kerukunan dan damai sejahtera, persatuan dan kerjasama dengan prinsip keadilan, saling menguntungkan, saling menghargai, saling terbuka dan saling percaya.

Keragaman Indonesia adalah kekayaan sekaligus berkah bagi bangsa Indonesia. Keberagaman ini merupakan sunnatullah, dan merupakan sesuatu yang sifatnya given. Keberagaman ini harus tetap kita jaga dan kita rawat bersama karena perbedaan merupakan unsur pembentuk bangsa Indonesia, bangsa ini terbangun dari latar belakang perbedaan agama, suku, ras, bahasa, daerah dan golongan sosial. Maka kita harus tetap harmoni dalam perbedaan.

Salam Damai Untuk Indonesia.

By admin1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *