Kurikulum

A. LATAR BELAKANG

Berdasarkan Peraturan Menteri Agama Nomor 36 tahun 2009 tentang Penetapan Pembidangan Ilmu dan Gelar Akademik di lingkungan Perguruan Tinggi dan  Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 8 tahun 2012 tentang Kurikulum Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) serta Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 73 tahun 2013, yang mengharuskan Perguruan Tinggi untuk melakukan redesain kurikulum, maka dipandang perlu untuk merevisi kurikulum sesuai dengan profil lulusan yang mengacu pada KKNI dan Standar Nasional Perguruan Tinggi (SNPT).

Beralihnya status  Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol dengan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 37 tahun 2017, maka Prodi Perbandingan Agama yang berubah menjadi Prodi Studi Agama-Agama  melakukan berbagai revisi mata kuliah yang mengacu pada KKNI dan SNPT yang mengharuskan setiap mata kuliah harus mencakup sikap, keterampilan umum dan khusus serta pengetahuan.

Pada dasarnya ini adalah perubahan paradigma pembelajaran yang semula Teacher Centered Learning (TCL) menjadi Student Centrered Learning (CTL). Desain kurikulum Pendidikan Tinggi ini mengharuskan setiap lulusan memiliki skill dan kemampuan spesifik sehingga lulusan dipersiapkan sebagai tenaga kerja yang siap berkompetisi dengan alumni perguruan tinggi lainnya. Karena itu,  Prodi Studi Agama-agama merancang kurikulum sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan dari masyarakat.

Sewaktu masih berstatus sebagai IAIN, lembaga ini hanya terfokus pada kajian ilmu-ilmu keislaman (Islamic Studies) dengan pendekatan yang cenderung eksklusif tanpa membuka diri terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang lain. Setelah menjadi UIN perlu menyeimbangkan  keilmuan dan kurikulum yang padu dengan ilmu-ilmu lain, sehingga studi Islam tidak lagi menjadi sebuah entitas keilmuan yang eksklusif. Harus diakui bahwa selama ini  para dosen sudah memamfaatkan  ilmu-ilmu sosial dalam kajian keagamaannya, tetapi semuanya itu belum dilakukan secara tertruktur dan sifatnya hanya insidental. Pada sisi lain, perguruan tinggi umum kurang mempertimbangkan aspek agama dalam pengembangan keilmuannya karena agama dipandang sebagai sesuatu yang terpisah dari dunia ilmu pengetahuan.

Universitas Islam Negeri (UIN) sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam, perlu mengubah realitas tersebut dengan upaya pengembangan keilmuan dan kurikulum dengan menggunakan pendekatan ini dan menempatkan wilayah agama dan ilmu pengetahuan dalam posisi sejajar, serta  antar ilmu saling menyapa satu dengan lainnya sehingga menjadi satu bangunan yang utuh. Pada dasarnya, Islam mengembangkan ilmu yang bersifat universal  dan tidak mengenal dikotomi antara ilmu-ilmu yang berkaitan dengan teks keagamaan dengan ilmu-ilmu alam dan sosial kemasyarakatan serta ilmu-ilmu etika dan kefilsafatan.

Dengan demikian, rancangan atau rumusan KKNI berbasis SNPT dari Prodi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang dimaksudkan dapat menjawab permasoalan keagaman, serta mampu membangun masyarakat, sehingga Prodi Studi Agama-Agama dengan re-desain kurikulum ini dapat menjawab tantangan dan kebutuhan dari masyarakat.

B. LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM

Pengembangan kurikulum S.1 Prodi Studi Agama Agama UIN Imam Bonjol Padang dilandasi oleh nilai-nilai teologis, filosofis, kultural, sosialogis, psikologis dan kebijakan-kebijakan yang dituangkan dalam peraturan perundang-undangan sebagai berikut.

  1. Landasan Teologis

Pendidikan yang dikembangkan adalah pendidikan yang berperspektif Qur’ani, yakni pendidikan yang utuh menyentuh seluruh domain yang disebutkan oleh Allah dalam kitab suci Al Qur’an yang secara sistemik dikembangkan melalui konsep hadlarah al nash, keilmuan, dengan konsep hadlarah al ilm dan amalan–amalan praksis (akhlak) dengan konsep hadlarah al falsafah.

2. Landasan Filosofis

Kurikulum yang akan dibangun adalah kurikulum inklusif dan humanis. Inklusif artinya tidak menganggap kebenaran tunggal yang hanya didapat dari satu sumber, melainkan menghargai kebenaran yang berasal dari beragam sumber. Humanis berarti walaupun berbeda pandangan keagamaan tetap menjunjung tinggi moralitas universal, sehingga mendorong terciptanya keadilan sosial dan menjaga kelestarian alam serta meminimalisir radikalisme agama.

3. Landasan Kultural

Kurikulum yang diterapkan harus berbasis pada pemaduan antara globalisme-universalisme dan lokalisme-partikularisme guna pengembangan keagamaan dan keilmuan.

4. Landasan Sosiologis

Kurikulum yang berdasarkan pada keberagaman suku bangsa, budaya, dan agama sehingga melahirkan lulusan yang mampu menyelesaikan konflik di masyarakat

5. Landasan Psikologis

Kurikulum yang diarahkan untuk mengembangkan kepribadian yang asertif, simpatik, memiliki keterampilan sosial yang baik dan beretos kerja tinggi. Kurikulum program studi dikembangkan oleh setiap lembaga dan mencakup kurikulum inti dan kurikulum institusional. Kurikulum inti sebagai ciri kompetensi utama mencakup pengalaman belajar dan substansi yang mendukung ketercapaian kompetensi utama, sedangkan kurikulum institusional sebagai kompetensi pendukung dan kompetensi lain mencakup pengalaman belajar dan substansi yang mendukung pencapaian kedua kompetensi tersebut, dengan elemen-elemen yang terdiri atas:

  • Nasionalisme dan Landasan kepribadian
  • Penguasaan Akademik Kependidikan
  • Penguasaan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni.
  • Kemampuan Berkarya dan Keterampilan
  • Sikap dan perilaku dalam berkarya berdasarkan ilmu dan ketrampilan yangdikuasai.
  • Penguasaan kaidah berkepribadian dan bermasyarakat sesuai dengan pilihan keahlian dalam berkarya.

6. Landasan Yuridis

Adapun landasan Yuridis yaitu sebagai berikut:

  • Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
  • Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen;
  • Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi;
  • Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2005);
  • Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan;
  • Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah  No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan;
  • Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi;
  • Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 1999 tentang Perguruan Tinggi Berbadan Hukum Milik Negara (BHMN);
  • Peraturan Presiden No. 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).
  • Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Nasional Pendidik;

C. MAKSUD DAN TUJUAN PENGEMBANGAN KURIKULUM

Penyusunan kurikulum Prodi Studi Agama-Agama  Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama merupakan tindak lanjut dan implementasi Peraturan Presiden R.I Nomor 8 2012 serta Permendikbud R.I. nomor 73 tahun 2013. Tujuannnya adalah tersusunnya dokumen kurikulum Prodi Aqidah dan Filsafat Islam yang mengacu kepada KKNI, mulai dari latar belakang, landasan, visi, misi, tujuan serta struktur kurikulum. Dengan tersusunnya dokumen kurikulum diharapkan dapat memenuhi Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Dengan demikian  diharapkan meningkatkan kualitas pengelolaannya, yang pada akhirnya dapat melahirkan out put pendidikan yang berkualitas. Alasan dari pengembangan kurikulum ini diantaranya :

  1. Memenuhi kebutuhan yang ada dalam masyarakat dan untuk meningkatkan kemajuan masyarakat

Dengan dikembangkan nya suatu kurikulum maka pendidikan yang ada di masyarakat baik pendidikan formal maupun non formal akan mengalami peningkatan . dengan adanya peningkatantersebut maka masyarakat akan mengalami perubahan kearah yang lebih baik pula baik pengetahuan maupun pola kehidupan nya dan apabila pemenuhan tersebut telah terpenuhi maka masyarakat akan mengalami kemajuan.

2. Memenuhi kebutuhan peserta didik.

Perubahan cara pandang kurikulum, dari kurikulum sebagai alat menjadi kurikulum sebagai tujuan atau akhir yang akan dicapai. Karena hasil belajar yang diharapkan merupakan dasar bagi perencanaan dan perumusan berbagai tujuan kegiatan pembelajaran. Untuk tambahan dalam memenuhi kebutuhan peserta didik yaitu diperlukan seorang tenaga pengajar yang berkualitas atau yang telah terididik dengan teramat baik

3. Menjawab atau antisipasi yang merupakan kemajuan ilmu tekhnologi.

Kurikulum haruslah bersifat dinamis. Yang dimaksud dinamis yaitu senantiasa berubah menyesuaikan keadaan supaya dapat memantapkan belajar dan hasil belajar. Kurikulum yang tidak sesuai dengan tuntutan sosial, Tidak sesuai lagi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan juga tidak sesuai dengan dunia kerja akan menyebabkan sebuah problem, karena itu haruslah dirubah dan dikembangkan kurikulum tersebut.